Mencintai itu sulit, ya?

Mencintai seseorang bukanlah suatu hal yang mudah,

Memilihnya bukan berarti kamu hanya mencintai dan menyayangi dia.
Saat kamu mengambil keputusan itu, kamu harus siap dan terima bagaimana keluarganya, dengan siapa dia bergaul, apa hobinya, apa makanan kesukaannya, bagaimaa caranya berbicara, sesibuk apa dia saat ini dan nanti, cara dia mengetik balasan pesanmu, apa yang dia takuti, bahkan sampai bagaimana sikap dia saat terlelap.

Saat kamu mencintainya dan merasa bahwa kamu memilikinya… Maka akan timbul rasa dimana kamu bisa mengatur ini dan itu tentangnya.
Tapi kawan, percayalah sebenar-benarnya itu adalah rasa yang salah dan sangat amat egois.

Mencintai seharusnya adalah rasa dimana kita bisa membebaskan dia, sebab bahagianya dia adalah tujuan kita mencintainya, iya kan? Coba bayangkan bagaimana senyum terindahnya saat dia bahagia. Menyejukkan bukan?

Memang semuanya pun mengerti seperti itu kodratnya. Namun, banyak yang belum mengerti bagaimana bisa membiarkan dia yang kita cintai bahagia dengan caranya yang sangat tidak kita suka, suatu hal yang bertolak belakang dengan prinsip kita…..

Sulit memang berbicara tentang perbedaan, sebab kamu dan dia bukan terlahir pada keluarga yang sama, tidak diberkati cara berfikir yang sama, dan banyak hal yang membuat perbedaan.

Tapi pada intinya, jika kita mencintai seseorang kita harus rela mengorbankan ego untuk komitmen yang kita buat sendiri dengannya.

Mengorbankan ego disini bukan berarti kita harus mengalah dan membiarkannya tetap di jalan yang menurut kita salah. Tapi cobalah berbicara dan menjelaskan apapun yang membuat hatimu mengganjal, lalu berikan contoh yang menurutmu baik untuknya dengan sikapmu. Setelah itu, biarkan dia memilih… Jika dia menyadari sedang berada di jalan yang salah, bersyukurlah kamu. Tapi bagaimana jika dia tetap memilih jalannya sendiri ? Stop stop, jangan menunjukan sikap atau wajhamu sangat tidak menyukainya, sebab itu sangat melukainya, sungguh. Hemmm yah, setidaknya kamu sudah mengingatkan apa yang menurutmu baik. Dan ingat, dia pun punya pilihannya sendiri. Toh, jika memang tidak baik waktu akan menyadarkannya, bersabarlah. Dan jika sabarmu tidak cukup menerimanya… berarti kamu berkomitmen dengan seseorang yang salah.

Mencintai itu adalah tentang penerimaan.
Redamkann egomu kawan, sebab berkomitmen diusiamu bukan lagi perjanjian antara anak paud.

Bisakah disebut doa?

Tuhan, bukankah cinta adalah keindahan?
Lalu mengapa mereka saling memaki?

Tuhan, bukankan manusia memang tempat salah dan khilaf?
Lalu mengapa mereka tetap mengokohkan egonya masing-masing?

Tuhan,
Jika memang ditakdirkan untuk berpisah, lalu mengapa harus dipersatukan selama ini?

Tuhan,
Jika memang masih ada yang bisa diperbaiki tolong perlihatkan jalanMu.
Jika berpisah adalah jalan terbaik, izinkan kami berpisah tanpa ada dendam.

Aku lelah menyaksikan mereka seperti itu, tolong hentikan. Jika tidak bisa menghentikan mereka, hentikan aku menyaksikannya.

Hidupku

Hidupku tak semenyenangkan hidupmu
Rumahku tak seharmonis rumahmu
Keadaan ekonomiku tak sesejahtera sepertimu.

Hidupku sudah lelah dengan keseriusan bangsat macam itu, aku hanya butuh pelukan. Aku memilihmu untuk menemaniku menertawai hidupku sendiri.

Aku bukan mengeluh, aku hanya ingin membagi beban yang hanya mengendap jika didiamkan lalu menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meleak.Jangan berteriak di depan wajahku atas ceritaku.  Aku butuh pendengar, bukan pengomentar. Aku ingin bebanku berkurang. Aku ingin bernafas bebas.

Tolong, aku butuh pelukmu.

Terkhusus

Terkadang cinta itu lucu ya, benar yang mereka bilang saat kita jatuh cinta kita tidak bisa memilih pada siapa dan kapan kita menjauhkan cinta itu.

Seperti dia, pria yang tidak pernah terbayangkan untuk aku menjatuhkan hati.
Pria yang tidak asing dalam hidupku. Sewindu lebih aku mengenalnya mungkin cukup untuk meyakinkan bahwa aku menjatuhkan hatiku pada pria yang tepat. Semoga.

Dia pria dewasa yang supel, periang, yang membuat banyak orang tidak butuh waktu lama untuk nyaman bersamanya. Emmmm okey itu mereka yang bilang.

Menurutku, dia pria menyebalkan dengan kerlingan matanya, ya itu menyebalkan, sungguh. Namun, dia juga pria yang luar biasa yang mengerti bahwa hubungan lebih penting dari sekedar ego masing-masing, dia juga satu-satunya pria yang selalu berhasil membuatku bersikap apa adanya, pria yang selalu menempatkanku di sebelah kiri saat berjalan, pria dengan genggaman hangat yang menenangkan, dan pria yang lebih tersenyum lebar saat aku merajuk, kamu tau? Ini pun menyebalkan.

Untuk kali ini aku tidak berharap banyak, biarkan Tuhan dan waktu yang memberi kami kejutan-kejutan di depan nanti. Yang aku tahu saat ini, aku bersyukur mencintainya.

Mungkin tidak akan banyak kata demi kata yang aku susun pada halaman ini untuknya. Biarkan susunan kata itu ku torehkan pada lembar demi lembar yang kubuat khusus untuknya. Biarkan aku menikmati kebahagiaan ini sendiri, sebab keindahanya terlalu berharga untuk dibagikan.

Salam sayang,
Jenongmu

Untuk hidup (lagi)

Aku diam diantara mereka yang bersorak
Menikmati detik demi detik tanpa rasa, tanpa tujuan
Aku hilang, tak tahu arah

Getir, melihat mereka yang tersenyum riang
Mereka pun belum tentu tanpa luka, aku tahu itu
Tapi setidaknya ada bagian-bagian luka yang mampu mereka tutupi,
dengan senyuman itu.

Jangan menyerah??
Entah kapan terakhir mendengar pekikan itu

Aku hidup, namun mati.
Aku
.
.
.
.
.
butuh kamu
untuk hidup (lagi)

Kamu hanya perlu membuka mata dan menyadari bahwa memang keadaannya tidak lagi sama.

Namun, percayalah yang sungguh mencintaimu tidak akan membiarkanmu menunggu dalam ketidakpastian.

-S

Sebuah Malam Minggu

Faizal Iskandar

Screen Shot 2014-08-31 at 18.47.59

Sabtu malam sehabis hujan namun tetap gerah. Laut berjalan menyusuri koridor coffee shop langganannya dengan langkah tergesa. Setelah menyapa dan memberi kode kepada barista agar membuatkan pesanan seperti biasa, Laut meneruskan langkah menuju tangga yang membawanya naik ke lantai dua.

Tak ada yang istimewa dengan suasana lantai dua.

Sebagian meja kursi sudah terisi. Pengunjungnya beragam. Ada yang berpasangan, beramai-ramai, ada juga yang sendirian. Dari speaker di sudut ruangan, suara Landon Pigg menyanyikan lagu yang hampir pasti selalu ada di tempat seperti ini. Apa lagi kalau bukan Falling In Love at the Coffee Shop?

 

Setelah mengambil duduk, membuka ransel, kemudian menyalakan laptop, Laut membuka email dan mulai menulis. Sesuatu yang membuat hatinya kalut selama dua bulan terakhir ini. Sesuatu untuk seorang perempuan yang sangat dicintainya.

 

To: emailnyafarah@gmail.com

Subj: Untitled

 

Far,

Sebelumnya saya mau minta maaf dulu.

Kenapa alih-alih ngajak ketemuan, saya malah nulis email kayak gini.

 

Jawabannya…

View original post 513 more words